Selasa, 07 Agustus 2012

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA INDONESIA MELALUI PERPUSTAKAAN





Drs. Anwar, MM
Penasehat Komite SMK Negeri I Maros
 Pendahuluan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang ingin menghargai pahlawan, oleh karena itu Bangsa Indonesia bangsa yang besar. Bangsa Inonesia memiliki berbagai nilai luhur yang agung, Nilai-nilai luhur tersebut bersumber dari nilai-nilai Pancasila, yakni: nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan kekeluargaan, serta keadilan sosial. Nilai Pancasila pun terumus berdasarkan nilai-nilai yang sebelumnya telah berurat berakar dalam jiwa bangsa Indonesia. Lantas, nilai-nilai luhur tersebut menjadi acuan dan landasan berfikir bagi rakyat Indonsia sehingga akhirnya menjadi karakter bangsa Indonesia. Apa yang dimaksud karakter?
Secara umum, karakter adalah watak. Watak merupakan ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing individu dan membedakannya dengan individu lain. Suatu contoh salah satu karakter bangsa Indonesia adalah kekeluargaan dari gotong royong. Hal ini berbeda dengan karakter bangsa Jerman, Amerika Serikat dan lain-lain. Karakter menjadi identitas suatu bangsa. Karakter bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila melekat dalam diri semua rakyat Indonesia. Untuk membangun perpustakaan maka dibutuhkan beberapa faktor al: pengelola perpustakaan atau pustakawan, gedung, sarana dan prasarana meliputi Meja, kursi, lemari dan lebih penting adalah koleksi seperti: buku, majalah, surat kabar, dll.  Salah satu  media dan sarana yang paling tepat untuk membangun karakter bangsa adalah perpustakaan. Dimana diketahui bahwa perpustakaan adalah pusat informasi, rekreasi disamping dapat lebih mudah membangkitkan minat baca.
Membangun Karakter Bangsa
            Dalam membangun dan menumbuhkan karakter bangsa menurut Mujiati 2008, dalam artikel berjudul Peranan Perpustakaan Sekolah Terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah, perpustakaan memiliki berbagai fungsi, yakni sebagai berikut:
1.      Fungsi edukatif
Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum. Hal ini mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan darya kreasi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan pola piker yang rasional dan kritis serta mampu membimbing dan membina para siswa.
2.      Fungsi Informatif
Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat berbagai informasi bermutu dan up to date, disusun secara teratur dan sistimatis, sehingga memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukan.
3.      Fungsi administrative
Perpustakaan harus mengerjakan pencatatatan, penyelesaian, pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif dan efisien.
4.      Selain menyediakan buku-buku pengetahuan, perpustakaan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan) dan bermutu, sehingga dapat digunakan para pembaca untuk mengisi waktusenggang.
5.      Fungsi Penelitian
Perpustakaan menyediakan bacaan yang dapat dijadikan sebagai sumber atau objek penelitian sederhana dalam berbagai bidang studi.
            Mengacu pada berbagai fungsi strategis tersebut, perpustakaan sangat tepat dimanfatkan sebagai pembangun kembali karakter bangsa melalui optimalisasi. Perpustakaan sebagai media pendidikan, seperti;  yang telah diuraikan sebelumnya, pendidikan memegang peran penting dalam character building bangsa Indonesia. Pendidikan tentu berhubungan erat dengan informasi dan ilmu pengetahuan. Hal ini tentu bisa didapatkan secara lengkap di perpustakaan. Melalui buku-buku yang disediakan. Minat baca masyarakat harus ditingkatkan dengan berbagai program menarik dari perpustakaan, misalnya perpustakaan keliling, perpustakaan masuk desa, dan reformasi perpustakaan. Reformasi perpustakaan mencakup pembangunan perpustakaan yang memadai dan segi kualitas bangunan dan ukuran serta penataan ruangan, ditambah dengan profesionalisme pustakawan yang harus diterapkan.
Perpustakaan dan Pustakawan
            Seiring dengan era globalisasi dan TI yang tidak bisa dibendung keberadaannya maka dibutuhkan pemerhati perpustakaan terutama pihak pemerintah yang tidak enti-entinya memprogramkan pembangunan perpustakaan sebagai sarana untuk menambah ilmu sebanyak mungkin dan sebagai pusat informasi serta tempat rekreasi. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi bahwa perpustakaan yang ada saat ini masih bisa dihitung jari, baik perpustakaan umum tingkat propinsi, perpustakaan umum kabupaten, Sekolah, Perguruan tinggi, perpustakaan khusus dll. Oleh karena dengan tersedianya perpustakaan maka tidak kala pentingnya adalah SDM pengelola perpustakaan atau pustakawan. Sesuai data Pusat Pengembangan Perpustakaan  pada Perpustakaan Nasional RI  bahwa baru terdapat 3042 Pustakawan yang telah menduduki jabatan fungsional. Jadi masih jauh yg diharapkan kalau melihat data sekolah SD sampai sekarang ini belum adapun pustakawan atau 0 %. Hal ini menjadi tantangan dan  bahan pemikiran buat pemerintah maupun pemerhati perpustakaan kedepan.
            Dewasa ini  bangsa Indonesia maupun Negara lain dengan yakni perubahan berbagai aspek secara meluas anatar Negara di dunia yang disebut globalisasi. Globalisasi dating dengan pembaharuan dengan mendatangkan berbagai kemajuan IPTEK yang memudahkan hidup manusia. Suatu contoh, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melahirkan internet sebagai akses komunikasi cepat. Segala inform,asi dengan mudah didapatkan dari internet. Tetapi apa yang terjadi jika para pengakses internet, khususnya generasi muda, tidak memiliki filter yang kokoh untuk menyaring segala informasi yang diterima. Hal ini menjadi pekerjaan rumah buat pemerintah untuk memberikan pelatihan maupun training jangka panjang atau S1 bidang perpustakaan dan S2  bagi pengelola perpustakaan.
Penutup
Perpustakaan sebagai media konsultasi. Menjadikan perpustakaan tidak hanya sebagai gudang ilmu, tetapi juga sebagai psikolog. Diera globalisasi, ditengah kemajuan zaman, permasalahan pun semakin banyak dan bervariasi. Perpustakaan, sekali lagi melalui buku-buku yang disediakannya, mampu menjadi sumber inspirasi, konsultasi, menjadi sumur solusi yang membasahi hati yang kering oleh problematika kehidupan. Dalam hal ini, perpustakaan menyediakan buku-buku yang memberikan pemahaman akan karakter budaya bangsa dan watak kepribadian bangsa Indonesia. Membangun kembali karakter bangsa bukan hal yang mudah. Apalagi saat ini tantangan sudah semakin berkembang maka Perpustakaan sebagai sumber motivasi dan pusat informasi untuk menggali sebanyak mungkin. Diperlukan motivasi yang kuat bagi bangsa Indonesia sehingga kesadaran untuk kembali menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila tumbuh dan berkembang. Kemudian dengan gencarnya era globalisasi maka perpustakaan  tampil dan mamu meja sumber motivasi yang lengkap dan manjur. Buku-buku agama, filsafat, politik, kepribadian, bahkan kumpulan cerita pendek pun dapat menjadi sumber mata air motivasi bagi pembacanya dan penggunanya.



Daftar Pustaka
Indonesia, Perpustakaan Nasional. 1999. Keputusan  Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 72 Tahun 1999 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Mujiat, 2008. Peranan Perpustakaan Sekolah Terhadap Mutu Penddikan di Sekolah. Diakses tgl 12 November 2009 di http://sdpawyatandaha2kdr.wordpress.com/2008/01/25/peranan perpustakaan sekolahterhadap mutu pendidikan disekolah.

Nasihir, Haedar, 2008. Membangun Karakter Bangsa. Diakses tgl 25 Oktober 2010 dari hatp://akarfoundation.wordpress.com/2008/01/09/membangun-karakter-bangsa/
Ratnaningsih. 1998. Pemberdayaan perpustakaan menjelang abad 21. Dalam Dinamika Informasi dalam Era Globalisasi. Bandung: Rosdakarya.
Surahman, Arif. 2009. Undang-undang No.43 tahun 2007. Peluang dan Tantangan Bagi Pustakawan. Makalah Final Lomba Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Propinsi DIY 29 Juni 2009 di gedung Kagama Yogyakarta.
Surahman, Arif. 2009. Law No.43 of 2007. Opportunities and Challenges for Librarians. Papers Competition Final Librarian Achievement Level Best DIY June 29, 2009 in Yogyakarta Kagama building.

0 komentar:

Poskan Komentar